Jangan Dimarahi, Pakai 5 Cara Ini Saat Hadapi Anak yang Penasaran Tentang Seks

Jangan Dimarahi, Pakai 5 Cara Ini Saat Hadapi Anak yang Penasaran Tentang Seks

 

“Ibu, dedek bayi asalnya dari mana sih?”. Sudah pernah mendapat pertanyaan seperti itu dari si kecil? Duh, bingung ya jawabnya.

 

Kelasiana, sebagai orang tua, saat diajukan pertanyaan seperti ini, jangan menghindar, apalagi sampai memarahi.

 

Seiring pertumbuhan nalarnya, seorang anak pasti akan terdorong menanyakan hal-hal sensitif dan membingungkan orang tua untuk menjawabnya, salah satunya yang berkaitan dengan seks. Lalu bagaimana menghadapinya?

 

Pertama, tenang. Meski Kelasiana sudah tahu bahwa suatu saat anak akan bertanya seperti itu, tetap saja akan mengagetkan ketika tiba waktunya. Nah, saat anak penasaran tentang seks, diskusikan. Jangan dianggap tabu.

Perlu diketahui, rasa penasaran mengenai seks adalah langkah alami dari pertumbuhan anak untuk belajar tentang tubuhnya. Maka, pendidikan seks membantu anak untuk lebih memahami tentang tubuh dan membantu mereka mencintai tubuh mereka sendiri.

 

Mengutip dari situs HelloSehat.com, studi menunjukkan, anak-anak yang sudah mendapatkan pendidikan seks di rumah dari orang tuanya, cenderung untuk tidak terlibat dalam perilaku seksual berisiko.

 

Sayangnya, hingga kini pendidikan seks di sekolah masih ditolak banyak pihak. Alasannya, pendidikan seks dicurigai sebagai kegiatan kontraproduktif dan mengarah pada pornografi.

 

Padahal, justru minimnya akses formal terhadap pendidikan seks di Indonesia membuat anak dan remaja cenderung memuaskan rasa ingin tahunya melalui saluran lain, seperti internet, film porno, dan teman sebaya yang pada umumnya tidak tepat dan bisa jadi berbahaya.

 

Menurut advocatesforyouth.org, pendidikan seks yang komprehensif dan program pencegahan HIV/AIDS yang efektif, menunjukkan pengaruh terhadap perubahan perilaku atau mencapai dampak kesehatan yang positif, termasuk menunda melakukan seks pertama, penurunan kejadian seks tidak aman, peningkatan penggunaan kondom dan kontrasepsi, serta tingkat kehamilan dan angka kejadian infeksi menular seksual (IMS) yang jauh lebih rendah.

 

Nah, di sinilah peran orang tua dibutuhkan sebagai pendidik utama anak, untuk melibatkan mereka dalam diskusi seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Memulai Pendidikan Seks di Rumah

 

Memang gampang-gampang susah menjelaskan seks pada anak-anak. Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

1. Diskusi sesuai umur anak

 

Berikan pemahaman sedikit demi sedikit dan disesuaikan dengan umur anak, tidak perlu langsung memberikan ‘kuliah’ dengan berbagai topik dalam satu waktu sekaligus.

 

Anak-anak cenderung menunjukkan rasa penasaran mereka terhadap kehamilan dan bagaimana bayi dibuat, dibanding dengan mekanisme seks itu sendiri.

2. Hindari penamaan ambigu

 

Sejak kecil, anak sudah harus bisa mengetahui dan membedakan bagian tubuh, termasuk genitalia. Hindari penamaan ambigu seperti ‘anu’ atau ‘susu’ untuk membantu anak belajar memahami tubuhnya sendiri.

 

Ini juga diperlukan agar anak bisa mengidentifikasi masalah dengan tepat saat orang tua mencurigai adanya kekerasan seksual yang terjadi pada mereka.

 

Jadi, gunakan istilah yang benar sejak awal seperti menyebut payudara, dada, puting, penis, vulva, vagina, testis, dan lain-lain.

3. Apresiasi dan gunakan bahasa sederhana

 

Jika anak balita bertanya dari mana bayi berasal, Kelasiana bisa terlebih dahulu memujinya dengan mengatakan misalnya, “Wah, pertanyaan yang bagus sekali.” Dengan demikian, anak akan merasa pertanyaannya bukan sesuatu yang aneh sehingga ke depannya dia akan nyaman untuk bertanya apa saja.

 

Kemudian, kita bisa memancingnya dengan bertanya balik, “Hmmm menurut kamu gimana?”. Cara ini untuk mengetahui seberapa baik pemahamannya.

 

Kelasiana bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, seperti, “Bayi hidup di rahim mama. Saat bayi sudah besar, ia keluar dari jalur lahir, namanya vagina.”

4. Kenalkan konsep pubertas

 

Hal penting lainnya adalah mengenalkan pada anak seputar konsep pubertas, dan bagaimana fisik tubuh berubah akibat pubertas.

 

Misalnya, “Dek, coba liat si kakak. Sekarang dia jenggotan (atau memiliki payudara) dan suaranya besar, kan? Nanti kamu kalau sudah besar juga akan seperti itu. Rambut juga akan tumbuh di penis (atau vagina) kamu, dan di ketiak kamu.”

5. Jangan Dimarahi

 

Jika anak remaja kalian kedapatan menonton film porno, jangan panik, jangan pula memarahinya. Gunakan kesempatan ini sebagai pembuka diskusi mengenai apa saja yang telah dia lihat.

 

Sampaikan padanya bahwa penasaran tentang seks itu adalah hal yang lumrah. Sebagai orang tua, Kelasiana wajib menggunakan kesempatan ini untuk meluruskan ‘fantasi’ dan risiko di dunia nyata yang mungkin terjadi dari film-film porno, dan seks adalah hal personal dan privat bagi orang dewasa.

 

Jelaskan juga bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan.

 

Segala macam seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang mereka kenal baik.

 

Selalu tekankan pada anak bahwa tidak adalah tidak, dan pengaruh alkohol maupun obat-obatan akan merusak kemampuannya dalam mengambil keputusan soal seks, dan bisa berujung pada kekerasan seksual.

 

Nah, dengan 5 cara yang sudah disebutkan di atas, kita berupaya menjadi sumber pertama anak mengenai seks dan seksualitas.

 

Ketika Kelasiana sebagai orang tua berbicara tentang seksualitas dengan anak-anak, kalian bisa memastikan bahwa informasi yang mereka dapatkan adalah informasi yang tepat.

 

Oh ya, khusus untuk anak yang memasuki fase remaja, ada trik tersendiri untuk berkomunikasi dengan mereka. Kelasiana bisa ikutan kelas online tentang mendampingi anak usia remaja di Kelasin.com.

 

Di kelas ini, Kelasiana akan punya bekal memahami dasar-dasar pendampingan untuk remaja, keterampilan berdialog hangat dengan remaja, serta bagaimana pola interaksi yang perlu dikembangkan antara anak dan remaja. Yuk ikutan dengan klik langsung link kelas ‘Mendampingi Anak Memasuki Usia Remaja’.

 

Sumber: HelloSehat.com

Kelasin.com adalah Platform yang menawarkan pembelajaran mandiri secara online untuk para orangtua. Topik yang kami tawarkan berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kemampuan orangtua. Ikuti kelasinya disini